Kangwahiid’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Asuhan Keperawatan DPD

DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Pengertian

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).

Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).

Jenis–Jenis Perawatan Diri

  1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan

Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.

  1. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.

Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.

  1. Kurang perawatan diri : Makan

Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.

  1. Kurang perawatan diri : Toileting

Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

B. Etiologi

Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut :

  1. Kelelahan fisik
  2. Penurunan kesadaran

Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah :

  1. Faktor prediposisi

a. Perkembangan

Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.

b. Biologis

Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.

c. Kemampuan realitas turun

Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

d. Sosial

Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.

  1. Faktor presipitasi

Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:

  1. Body Image

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

  1. Praktik Sosial

Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.

  1. Status Sosial Ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.

  1. Pengetahuan

Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.

  1. Budaya

Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.

  1. Kebiasaan seseorang

Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.

  1. Kondisi fisik atau psikis

Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.

  1. Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.

  1. Dampak psikososial

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

C. Tanda dan Gejala

Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

1. Fisik

a. Badan bau, pakaian kotor.

b. Rambut dan kulit kotor.

c. Kuku panjang dan kotor

d. Gigi kotor disertai mulut bau

e. penampilan tidak rapi

2. Psikologis

a. Malas, tidak ada inisiatif.

b. Menarik diri, isolasi diri.

c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

3. Sosial

a. Interaksi kurang.

b. Kegiatan kurang .

c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.

d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :

1. Data subyektif

a. Pasien merasa lemah

b. Malas untuk beraktivitas

c. Merasa tidak berdaya.

2. Data obyektif

a. Rambut kotor, acak – acakan

b. Badan dan pakaian kotor dan bau

c. Mulut dan gigi bau.

d. Kulit kusam dan kotor

e. Kuku panjang dan tidak terawat

D. Mekanisme Koping

1. Regresi

2. Penyangkalan

3. Isolasi diri, menarik diri

4. Intelektualisasi

E. Rentang Respon Kognitif

Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah :

  1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri

a. Bina hubungan saling percaya.

b. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.

c. Kuatkan kemampuan klien merawat diri.

  1. Membimbing dan menolong klien merawat diri.

a. Bantu klien merawat diri

b. Ajarkan ketrampilan secara bertahap

c. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari

  1. Ciptakan lingkungan yang mendukung

a. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.

b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.

c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekat dan tertutup.

F. Pohon Masalah

Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

Isolasi sosial

Defisit perawatan diri : mandi, toileting, makan, berhias.

Bagan 1.1

G. Diagnosa Keperawatan

Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1.1 yaitu:

1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri

2. Defisit perawatan diri.

3. Isolasi Sosial.

H. Fokus Intervensi

Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.

1. Tujuan Umum

Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.

2. Tujuan Khusus

a. TUK I : klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

1) Kriteria evaluasi

Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:

a). Wajah cerah, tersenyum

b). Mau berkenalan

c). Ada kontak mata

d). Menerima kehadiran perawat

e). Bersedia menceritakan perasaannya

2) Intervensi

a) Berikan salam setiap berinteraksi.

b) Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.

c) Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.

d) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.

e) Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.

f) Buat kontrak interaksi yang jelas.

g) Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.

h) Penuhi kebutuhan dasar klien.

b. TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.

1) Kriteria evaluasi

Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri.

2) Intervensi

Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.

a) Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.

b) Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.

c) Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.

d) Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.

e) Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri.

f) Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.

c. TUK III : klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.

1) Kriteria evaluasi

Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih sehari–hari, dan merapikan penampilan.

2) Intervensi

a) Motivasi klien untuk mandi.

b) Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.

c) Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.

d) Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.

e) Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.

f) Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.

d. TUK IV : klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.

1) Kriteria evaluasi

Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.

2) Intervensi

Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.

e. TUK V : klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.

1) Kriteria evaluasi

Klien selalu tampak bersih dan rapi.

2) Intervensi

Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.

f. TUK VI : klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.

1) Kriteria evaluasi

Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri.

2) Intervensi

a) Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri.

b) Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS.

c) Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS.

d) Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien.

e) Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.

f) Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri.

g) Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.

Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia

Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto

Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC

Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 – 2006. Jakarta : Prima Medika.

Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.

Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta. EGC

September 17, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Proses Keperawatan Nanda, NIC & NOC

PROSES KEPERAWATAN TERKAIT DENGAN NNN (NANDA-I-NIC-NOC)

NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association-International), NIC (Nursing Intervention Classification) dan NOC (Nursing Outcome Classification)

Kemajuan dunia keperawatan pada saat ini telah memicu para perawat baik di dalam dan luar negeri untuk mencoba memahami berbagai model asuhan keperawatan untuk bisa digunakan dalam setting klinik. Dalam prakteknya, perawat menggunakan proses keperawatan ketika melakukan asuhan perawatan pada pasien. Pada umumnya muncul kesimpangsiuran pemahaman mengenai perbedaan atau kaitan antara proses perawatan, NANDA-I, NIC dan NOC. Makalah ini akan mencoba menjelaskan kepada pembaca sekalian mengenai proses keperawatan yang kemudian dikaitkan dengan NANDA-I, NIC dan NOC.

1. Proses Keperawatan

Keperawatan sebagai proses diperkenalkan sejak tahun 1955 oleh Hall dan pada tahun 2004 proses keperawatan ditetapkan sebagai series of steps oleh ANA (American Nursing Association) (Wilkinson, 2007).

Proses keperawatan kemudian dipahami sebagai:

a. Cara berpikir dan bertindak yang special (khusus)

b. Pendekatan yang sistematik, kreatif untuk mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah kesehatan yang actual dan potensial untuk mengidentifikasi kekuatan pasien dan untuk mendukung kesejahteraan

c. Kerangka kerja dimana perawat menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengekspresikan “human caring” (Wilkinson, 2007).

Kaitan antara proses keperawatan dengan nursing model (berbagai model/teori keperawatan):

a. Mempengaruhi penggunaan dari nursing process

b. Membantu menjelaskan keunikan dari perawat dalam tempatnya di dalam tim multidisiplin

c. Teori berdasarkan pada nilai dan asumsi mengenai health, patient, perawatan dan lingkungan

d. Setiap teori menggambarkan konsep di atas dan menjelaskan bagaimana satu dengan yang lain berkaitan (Wilkinson, 2007)

Adanya berbagai macam nursing model kemudian akan memunculkan beberapa macam definisi tentang keperawatan, dan juga cara pendekatan dari masing masing model mempengaruhi penggunaan proses keperawatan. Salah satu contoh pengaruh nursing model dalam proses keperawatan adalah adanya perbedaan dalam hal pengkajian, misalnya pengkajian di psikiatri akan mempunyai beberapa fokus yang berbeda dengan pengkajian dalam lingkup medikal bedah atau komunitas. (Stuart & Laraia, 2001).

2. Kaitan proses keperawatan dengan NANDA-I, NIC dan NOC

Proses perawatan merupakan suatu cara berpikir dan bertindak yang spesial (khusus) dalam melakukan asuhan keperawatan. Dalam proses keperawatan, terdapat beberapa tindakan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain yaitu: assessment (pengkajian), diagnosis (penentuan diagnosa), perencanaan hasil (planning: outcome), perencaan intervensi (planning: intervention), pelaksanaan (implementation) dan evaluasi (evluation) (Wilkinson, 2007)

Pada prakteknya kegiatan proses keperawatan di atas tidaklah selalu berurutan tetapi bisa dikerjakan pada waktu bersamaan (overlapping).

Dimanakah posisi NANDA-I, NIC dan NOC dalam proses keperawatan?

Pada dasarnya NANDA-I adalah merupakan label diagnostic (berada pada fase penentuan diagnosa), NIC merupakan Klasifikasi intervensi keperawatan (berada pada fase Planning: intervensi) dan NOC adalah merupakan klasifikasi outcome (berada pada fase planning: outcome). Pada saat ini label diagnostic tidak hanya dapat dirujuk kepada NANDA-I tetapi juga bisa merujuk kepada label diagnostik: GORDON’s nursing diagnosis atau ICNP yang dikeluarkan oleh International Council of Nursing (ICNP, 2005).

Nursing process ditunjukkan oleh gambar berikut ini (Wilkinson, 2007):

Assessment phase

Kegiatan dalam pengkajian dibagi dalam empat hal, yaitu mengumpulkan data, memvalidasi data, mengorganisir data dan mencatat data.

a. Mengumpulkan data (Wilkinson, 2007)

Data yang didapatkan dapat dikelompokkan dalam

1). Subjective data: cover data/symptoms

Merupakan data yang tidak bisa di ukur atau diobservasi, contohnya: pemikiran klien, dll. Data subyektif bisa juga didapatkan dari Significant Others atau dari petugas kesehatan yang lain. Data ini hanya bisa didapatkan dari apa yang klien sampaikan pada perawat.

2). Objective data: overt data/signs

Adalah data yang bisa dideteksi oleh orang lain selain klien, biasanya didapatkan dengan cara melakukan observasi atau memeriksa klien. Contoh data obyektif adalah nadi, warna kulit, urin output, dan hasil diagnosa misalnya X-ray dll.

Pengkajian dibedakan antara pengkajian awal dan pengkajian lanjutan Pada dasarnya pengkajian awal merupakan pengkajian pada awal masuk, biasanya adalah berisi data base, dan merupakan pengkajian lengkap. Pengakajian Lanjutan merupakan pengkajian focus yang berfokus pada masalah, aktifitas atau perilaku spesifik dan bisa juga pengkajian yang datanya digunakan untuk mengevaluasi pencapaian hasil dan penyelesaian masalah.

Pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara yaitu antara lain dengan observasi, wawancara dan pengkajian fisik. Sedangkan data yang dikaji meliputi aspek biologi, psikologi, social, spiritual dan cultural.

b. Memvalidasi data (Wilkinson, 2007)

Memvalidasi data artinya mengecek kembali data untuk klarifikasi. Validasi data dilakukan pada kondisi sebagai berikut:

1). Data subyektif dan obyektif tidak sinkron

2). Statement klien berbeda pada waktu pengkajian yang berbeda

3). Data tampak sangat tidak normal

4). Adanya faktor yg mempengaruhi pada waktu melakukan pengukuran misalnya frekuensi nafas bayi yang sedang menangis

c. Mengorganisir data (Wilkinson, 2007)

Data yang telah didapatkan perlu diorganizier berdasarkan kerangka kerja dengan menggunakan model keperawatan (nursing model). Beberapa contoh nursing model adalah sebagai berikut :

1). Gordon’s functional health patterns framework: common patterns behavior that contribute to health, quality of life, and achievement of human potential

2). Orem’s self care model: patient’s abilities to perform self care to maintain life, health and well being

3). Roy’s adaptation model: patterns indicating the clients’s ability to adapt in one of four modes: psychological, self-concept, social role, and interdependence

4). Maslow’s hierarchy of Needs (non nursing model)

5). Stuart Adaptation Model – adalah merupakan model penanganan psikiatri yang membagi pasien dalam beberapa tahap penanganan yaitu krisis, akut, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. (Stuart & Laria, 2001). Model ini sangat tepat digunakan dalam keperawatan jiwa karena memberikan arahan untuk penanganan pasien dengan masalah psikiatrik. Model ini juga mengarahkan apa data spesifik dalam keperawatan jiwa yang perlu di kaji dan juga menggunakan NANDA-I sebagai rujukan label diagnostic.

d. Mencatat data (Wilkinson, 2007)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencatatan hasil pengkajian adalah:

1). Data subyektif dituliskan dengan menuliskan kata-kata klien dengan menggunakan “…” atau menggunakan paraphrase tanpa menggunakan “…”

2). Catat cues dan bukan inference (cues adalah apa yang klien ceriakan, apa yang anda lihat, apa yang anda dengar, rasakan, bau dan ukur), sedangkan inference berarti penilaian atau apa arti dari cues)

3). Hindari menggunakan kata umum misalnya good, normal, adekuat, tolerated well.

Diagnosis Phase – NANDA-I

Istilah diagnose keperawatan pertama kali muncul dalam literature keperawatan pada 1950 an yang menggambarkan fungsi dari professional perawat (McManus, 1951 cit. Wilkinson, 2007). Kemudian pada 1973 ANA memasukkan diagnosa keperawatan sebagai aktifitas keperawatan yang penting sebagai fungsi yang diakui dari professional perawat.

Beberapa hal yang perlu dimengerti oleh perawat mengenai terminology diagnosis adalah

a. Diagnosis

Adalah merupakan fase kedua dalam proses keperawatan dan merupakan proses yang digunakan untuk menginterpretasikan data untuk membuat kesimpulan dan membuat nursing diagnosis

b. Nursing diagnosis

Adalah merupakan kesimpulan dari status kesehatan pasien dan merupakan produk dari aktifitas‘diagnosis’.

c. Diagnostic label

Merupakan daftar standar penulisan nursing diagnosis. Umumnya perawat menggunakan NANDA-I sebagai diagnostic label, tetapi ada juga diagnostic label yang dibuat oleh Gordon, atau ICNP®. (Wilkinson, 2007)

Hubungan antara diagnosa keperawatan dengan respon manusia (human respon)

Diagnosa keperawatan didasarkan kepada respon manusia terhadap berbagai macam kejadian atau stressor misalnya penyakit atau cedera. Stressor ini bisa berasal dari biologi, psikologi, social dan spiritual atau bahkan dari treatment.

Respon manusia terjadi dalam berbagai tingkatan, misalnya tingkat sel, sistemik, organis atau secara keseluruhan (whole person). Dalam hal ini diagnosa keperawatan biasa berada pada level whole person.

Perlu dimengerti bahwa suatu stressor bisa menyebabkan banyak respon yang mungkin bisa berupa respon yang membantu atau respon yang berbahaya atau merusak (Wilkinson, 2007).

Tujuan dari adanya diagnosa adalah untuk mengidentifikasi status kesehatan pasien dalam hal (Wilkinson, 2007):

a. Strengths

b. wellness diagnoses

c. actual, potential, and possible nursing diagnoses

d. collaborative problems

e. medical problems

Kegiatan dalam fase diagnosa adalah (Wilkinson, 2007):

1. Interpreting: dilakukan dengan mengidentifikasi hasil pengkajian dan kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan gejala atau tanda yang mungkin menjadi satu kelompok dan kemudian melihat pola dan hubungan satu tanda dan gejala dengan yang lainnya. Kegiatan selanjutnya dalam menginterpretasi data di sini adalah dengan menarik kesimpulan mengenai status kesehatan saat ini dan menentukan etiologi dan mengkategorikan masalah yang ada.

2. Verify: Kesimpulan yang telah dibuat diverifikasi dengan pasien (kecuali pasien yang tidak sadar atau hampir meninggal)

3. Label

Label untuk diagnosa keperawatan menggunakan system klasifikasi (taxonomy). Untuk itulah perlu adanya bahasa keperawatan yang sama, antara lain dengan menggunakan NANDA-I.

NANDA- I mempunyai susunan sebagai berikut:

  1. Label adalah kata atau frase yang menggambarkan kesehatan klien. Label bisa digunakan sebagai PROBLEM/masalah atau ETIOLOGI/penyebab
  2. Definition: mengekspresikan dengan tepat dan jelas mengenai kealamiahan diagnosa dan membedakan label dengan yang lain
  3. Defining characteristic (Batasan karakteristik): Adalah tanda (data subyektif dan obyektif) yang mengindikasikan adanya label diagnosa. Untuk diagnosa actual batasan karakteristik adalah tanda dan gejala. Tidak semua batasan karakteristik perlu ada untuk bisa menggunakan label sebagai diagnosa
  4. Relate or Risk factors adalah semua kondisi, situasi yang berkaitan dengan masalah misalnya hal yang mempengaruhi, menyebabkan, bisa berasal dari biologi, psikologi, social, developmental, treatment dll.

Cara memilih label diagnosa adalah dengan mencocokkan gejala dan tanda yang didapatkan dari pengkajian dengan definisi dan batasan karakteristik yang ada dalam NANDA-I. Untuk mempermudah pencocokan data pengkajian dengan NANDA-I, penulis telah menerbitkan sebuah buku dengan judul Fast Methods of formulating nursing diagnoses: Cara cepat merumuskan diagnosa keperawatan (2006) dimana dalam buku ini terdapat semua kata yang terdapat dalam NANDA 2005 yang akan memberikan petunjuk kepada kita untuk mengetahui dimana posisi data tersebut dalam diagnosa NANDA.

4. Record (Wilkinson, 2007)

Pencatatan/penulisan diagnosa dilakukan berdasarkan beberapa aturan berikut ini. Beberapa hal dibawah ini perlu dimengerti sebelum memahami cara penulisan diagnosa keperawatan

- P = Problem

- E = Etiology

- S = Symptom and Sign (bisa juga dituliskan dalam bentuk S = subjective, O = Objective)

- R/t = Related to (merupakan penghubung antara P dan E)

Cara penulisan diagnosa aktual

a. Format dasar (P r/t E) (2 statement) = Two-Part statement

Contoh:

Problem (r/t) Etiology

Situational low sel-esteem (r/t) Rejections

Noncompliance (discharge procedure) (r/t) Unresolved anger delay discharge

b. Format P.E.S (P.E.S format = Problem, etiology, symptom)

Format ini direkomendasikan pada saat anda pertama kali belajar menulis diagnosa keperawatan. Jika anda menggunakan metode ini anda perlu menambahkan as manifested by (A.M.B) setelah etiologi dan diikuti dengan sign and symptoms dari pasien.

Beberapa aturan modifikasi pada etiologi adalah sebagai berikut:

1). Menggunakan “Secondary to” or 2 0

Etiologi bisa dibagi dalam dua statemen dengan menggunakan dengan kata “Secondary to” or 2 0 antara statemen satu dengan yang yang lainnya. Kata setelah secondary to biasanya merupakan patofisiologi atau proses penyakit

Contoh penulisan diagnosa keperawatan dengan menggunakan secondary to:

Risk for impaired skin integrity r/t decreased peripheral circulation 2 0 diabetes

2). Unknown etiology”

Perawat membuat diagnosa pada saat terdapat batasan karakteristik tetapi perawat mungkin belum tahu apa penyebab atau factor yang berkontribusi terhadap timbulnya masalah.

Contoh penulisan diagnosa dengan menggunakan format “unknown etiology”:

“Noncompliance (medication regimen) r/t unknown etiology

Apabila anda berpikir bahwa anda tahu etiologi tetapi anda masih merasa perlu data lagi untuk memastikan, maka anda perlu menggunakan frase “possible related to”

Contoh penulisan diagnosa:

Noncompliance (medication regiment) possibly r/t unresolved anger about diagnosis

3). Complex etiology”

Apabila anda menemukan bahwa etiologi dari masalah terlalu banyak atau kompleks maka anda bisa menuliskan etiologi dengan ‘complex factors’

Diagnosa keperawatan yang biasanya mempunyai etiologi yang komplek yaitu:

Decisional conflict or Chronic Low Self-esteem

Contoh statement diagnosa:

Chronic Low Self-esteem r/t complex factors

c. Format diagnosa keperawatan yang terdiri dari 3 – 4 statemen

Pada dasarnya modifikasi diagnosa keperawatan yang mempunyai 3-4 statemen merupakan penambahan statemen pada problem dan atau pada related factors.

Contoh diagnosa keperawatan yang terdiri dari 3 statemen:

d. Format diagnosa keperawatan yang terdiri dari 1 statement (Problem saja tanpa Etiologi dan lainnya).

Beberapa NANDA label sudah sangat spesifik sehingga mungkin tidak memerlukan etiologi dalam statement diagnostiknya. Diagnosa yang biasanya menggunakan satu statement adalah:

Wellness diagnoses

Contoh diagnosa yang dapat menggunakan format 1 statement:

- Disuse syndrome

- Impaired environmental interpretation syndrome

- Post-trauma syndrome

- Rape-trauma syndrome

- Relocation stress syndrome

- Death anxiety

- Decreased cardiac output

- Defensive coping

- Latex Allergy response

- Unilateral neglect

Cara penulisan diagnosa potensial (Resiko)

- Diagnosa resiko (potensial) didiagnosa dengan melihat adanya faktor resiko dan bukan batasan karakteristik

- Format hanya Problem + Etiology

- Etiologi didapatkan dari Risk factors (Faktor resiko)

- Bentuk bisa berupa 1 statement, 3 statement, multiple etiologi

- Tidak bisa menggunakan format P.E.S

Cara penulisan Possible Nursing diagnoses

Adalah diagnosa yang diangkat apabila perawat masih perlu mencari data lain karena data yang ada tidak cukup untuk menjadi salah satu statement (baik problem atau etiologi). Untuk kasus ini, diagnosa yang dituliskan dengan menambah kata ‘possible’. Kata ‘possible’ ini bisa digunakan sebelum Problem atau sebelum penulisan etiologi.

Contoh:

Possible Situational Low Self-esteem r/t loss of job and rejection by family

• Disturbed thought process possible r/t unfamiliar surrounding

Possible Low self-esteem r/t unknown etiology

Cara penulisan Collaborative problems

Masalah kolaboratif adalah komplikasi dari penyakit, tes atau treatment dimana perawat tidak bisa menangani secara mandiri. Etiologi untuk masalah kolaboratif biasanya dituliskan dengan mencantumkan penyakit, treatment atau patologis.

Dalam keperawatan jiwa, masalah kolaboratif tidak terlalu banyak, tetapi perawat bisa mencermati beberapa treatment yang mungkin menyebabkan respon pasien yang perlu diintervensi oleh perawat. Penulis mencoba mencermati masalah-masalah kolaborasi dalam keperawatan jiwa yaitu misalnya efek dari ECT dan efek dari pengobatan tranquilizer yang mungkin menjadi etiologi untuk diagnosa Risk for Falls (Resiko jatuh).

Tugas perawat untuk masalah kolaborasi adalah prevention dan observasi.

Contoh statemen diagnosa:

Risk for falls r/t administering tranquilizer

Dalam diagnosa kolaboratif, pasien tidak mempunyai Sign and Symptoms (karena tugas perawat mendeteksi apakah sign dan symptom tersebut muncul atau tidak) sehingga masalah kolaboratif tidak bisa menggunakan format P.E.S

Planning: Outcome phase – The nursing outcomes classification (NOC)

NOC adalah ‘istilah’ standar untuk menggambarkan outcomes pasien.

Pengertian NOC:

- An outcome is “an individual, family or community state, behavior, or perception, that is measured along a continuum in response to nursing intervention” (Moorhead, Johnson & Maas, 2004, p. 25)

NOC (2004) terdiri dari 330 outcomes yang terbagi dalam tujuh domains (Moorhead, Johnson & Maas, 2004):

a. Functional health

b. physiological health

c. psychosocial health

d. health knowledge and behavior

e. family health

d. perceived health

e. community health

Component of NOC (Moorhead, Johnson & Maas, 2004)

• Label: the broadly state

• A definition: concrete, observable, behaviors and states that can be used to evaluate patient status

• List of indicators

• Measurement scale: a five-point measurement scale is used to evaluate patient staus on each indicator

Cara menggunakan NOC adalah dengan membandingkan nilai status dari setiap indicator sebelum dan setelah dilakukan intervensi

Contoh penulisan NOC:

Aggression self control

140110 Identify when angry (5: consistently demonstrated)

Penulisan secara tradisional

Kontrol diri terhadap agresi, ditandai dengan kemampuan mengidentifikasi kapan saat marah (ditunjukkan secara konsisten)

Planning: Intervention – NIC (Nursing Intervention Classification)

NIC merupakan klasifikasi intervensi keperawatan yang dibuat untuk menyeragamkan bahasa intervensi yang dilakukan oleh perawat.

NIC edisi ke empat terdiri dari 514 intervention dan edisi ke lima (2008) terdiri dari 542 aktifitas (mempunyai sekitar 12000 aktifitas) (Bulechek, Butcher, & Dochterman, 2008)

Domain of NIC (Bulechek, Butcher, & Dochterman, 2008)

• Basic physiological

• Complex physiological

• Behavior

• Safety

• Family

• Health system

• Community

Komponen NIC, setiap NIC terdiri dari

- Label

- Definisi

- Aktifitas

Cara menggunakan NIC adalah dengan memilih aktifitas yang tepat untuk mencapai outcome yang diharapkan.

Fase Implementasi (Wilkinson, 2007)

Hal-hal yang dilakukan dalam implementasi yang bisa dilakukan oleh perawat terdiri dari:

- Do (melakukan), implementasi pelaksanaan kegiatan dibagi dalam beberapa kriteria yaitu:

a. dependent interventions: dilaksanakan dengan mengikuti order dari pemberi perawatan kesehatan lain

b. collaborative (interdependent): interventions yang dilaksanakan dengan professional kesehatan yang lain

c. Independent (autonomous) intervention: intervensi dilakukan dengan melakukan nursing orders dan sering juga sering juga digabungkan dengan order dari medis

- Delegate (mendelegasikan): pelaksanaan order bisa didelegasikan hanya saja ada beberapa tanggung jawab yang perlu dicermati oleh pemberi delegasi yaitu apakah tugas tersebut tepat untuk didelegasikan, apakah komunikasi tepat dilakukan dan apakah ada supervisi atau pengecekan kerja

- Record (mencatat), pencatatan bisa dilakukan dengan berbagai format tergantung pilihan dari setiap institusi

Fase evaluasi (Wilkinson, 2007)

Kegiatan dalam fase evaluasi meliput evaluasi patient outcomes dan nursing process.

Evaluasi patient outcomes dilakukan dengan mereview indicator outcome.

Evaluasi nursing proses dilakukan dengan mereview fase assessment, diagnosis, planning: outcome, nursing order dan implementation

Referensi

a. Bulechek, GM., Butcher, HK., & Dochterman, JM. (2008). Nursing Intervention Classification (NIC). 5th, ed. St Louis. Mosby Elsevier.

b. Moorhead, S., Johnson, M., & Maas, M. (2004). Iowa Outcomes Project. Nursing Outcomes Classification (NOC).3rd. St Louis. Mosby.

c. ICN (2005). International Classification for Nursing Practice. Geneva.

d. NANDA (2007) Nursing diagnoses: Definitions and Classification 2007-2008. Philadelphia

e. Stuart, G.W, Laraia, M.T (2001). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. 7th ed. St Louis. Mosby.

f.Wilkinson. J.M (2007). Nursing Process and Critical Thinking. 4th ed. New Jersey. Pearson Education.

September 17, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Saat Yang Dinanti Telah Tiba

begitulah ungkapan yang sering keluar dari bayak orang di sekeliling saya saat Bulah yang penuh Rahmat (Ramadhan) ini datang. Marhaban yaa Ramadhan. Memang sudah seharusnya kita sebagai umat Muslim bahagia dengan datangnya Bulan yang suci ini, bukan sebaliknya yang kita lakukan (Malas, lemas, lesu, dll) terhadap bulan ini. karena sesungguhnya pada Bulan Ramadhan Allah akanmenerima permohonan dari hamba-hambanya yang taat, bahkan tidak ada yang menghalangi doa hambanya tersebut.

beberapa yang saya tahu keutamaan dari Bulan Ramadhan ini:

  1. Pahala yang dilipatgandakan
  2. Tidurnya dihitung beribadah
  3. Diamnya dihitung membaca Tasbih
  4. Dosa-dosanya yang terdahulu di ampuni
  5. Terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 malam, yakni Al Lailatul Qodar.

Jadi seandainya saja di ridhoi oleh Allah, maka banyak umat manusia yang akan memohon untuk dijadikan seluruh masa dalam satu tahun ini menjadi bulan Ramadhan.

September 17, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.